
Namun ternyata dia hanya bicara; “Wahai saudaraku, bila apa yang Anda katakan tadi benar, semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengampuniku. Dan jika yang Anda katakan tidak benar, semoga Dia mengampunimu…” Kemudian ia berlalu setelah mengucapkan salam.
Merasa bersalah, aku mengejarnya dan berkata; “Sungguh, aku tak akan mengulangi kata-kata yang tidak Anda sukai”. Ia berkata; “Saya telah memaafkan Anda”.
Kisah lain diceritakan oleh seorang pemuda Madinah meriwayatkan; “Ketika melihat Zainul Abidin keluar dari masjid, aku mengikutinya dan langsung memakinya. Ternyata hal itu membuat orang-orang marah. Mereka berkerumun hendak mengeroyok aku. Seandainya mereka benar-benar melakukannya, pastilah aku babak belur. Untunglah ketika itu Zainul Abidin berkata; “Biarkanlah orang ini”. Maka merekapun membiarkan diriku.
Melihat aku gemetar ketakutan, dia menatap dengan wajah bershahabat dan menenteramkan hati, lalu berkata; “Engkau telah mencelaku sejauh yang kamu ketahui, padahal apa yang tidak Anda ketahui lebih besar lagi. Adakah Anda memiliki keperluan sehingga saya bisa membantu Anda?”.
Aku menjadi malu sekali dan tak bisa berkata apa-apa. Begitu melihat gelagatku, beliau memberikan baju dan uang seribu dirham. Sejak itu setiap kali melihatnya aku berkata; “Saya bersaksi bahwa Anda memang benar-benar keturunan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam”.(*)
Bersambung…








