
Adapun tentang syafaat kakekku, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan firman-Nya; “Mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah“. (QS. Al Anbiya: 28)
Sedangkan mengenai rahmat Allah, lihatlah firman-Nya; “Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik“. (QS. Al A’raf: 56)
Takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala menghendaki, ketakwaan Zainul Abidin benar-benar tak terlampaui orang lain. Kebijakannya, kedermawanannya dan sifat sebenarnya. Tak heran bila kisah hidupnya senantiasa menyemarakkan buku-buku sejarah dan mengharumkan lembar-lembarnya dengan keluhuran budinya.
Di antaranya adalah riwayat dari Hasan bin Hasan bahwa pernah terjadi perselisihan antara aku dengan putra pamanku, Zainul Abidin. Kudatangi dia tatkala berada di masjid bersama shahabat-shahabatnya. Aku memakinya habis-habisan, tapi dia hanya diam membisu sampai aku pulang.
Malam harinya ada orang mengetuk pintu rumahku. Aku membukanya untuk melihat siapa gerangan yang datang. Ternyata Zainul Abidin. Tak aku sangsikan lagi, dia pasti akan membalas perlakuanku tadi siang.








