
Aku mengulanginya lagi, dan ketika kupalingkan ke kiblat untuk ketiga kalinya beliau berkata; “Sekarang jika engkau hendak melakukan sesuatu, lakukanlah wahai Raja. Asyhadu an laa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah“.
Kupalingkan beliau ke arah kiblat dan tak lama kemudian beliau menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Aku pejamkan kedua matanya, aku tutup tubuhnya dengan kain, lalu kututup pintu ruangan itu rapat-rapat. Pada saat utusan istri khalifah, ingin menengoknya aku menghalangi pintu masuk sambil berkata; “Lihatlah dia baru bisa tidur setelah gelisah semalam suntuk. Karena itu biarkanlah dulu dia dengan ketenangannya”.
Syukurlah, ketika utusan istri Sulaiman bin Abdul Malik menyampaikan alasanku diterima dengan baik oleh istri khalifah. Dia yakin kalau suaminya memang sedang tidur. Aku mengunci pintu dan menempatkan seorang penjaga yang kupercaya sambil berpesan kepadanya; “Jangan ijinkan seorang pun masuk hingga aku kembali nanti”.
Kemudian aku pergi untuk menemui orang-orang. Ketika itu mereka bertanya; “Bagaimana keadaan Amirul Mu’minin?”. Aku menjawab, “Belum pernah beliau setenang ini semenjak sakitnya”. Alhamdulillah, kata mereka.








