Kisah Muhammad Al Hanafiyyah Bin Ali Bin Abi Thalib (4)

Ilustrasi berjalan di gurun. (Foto: Net)

Keputusan diambil, Abdul Malik menulis surat kepada Muhammad Al Hanafiyyah sebagai berikut; “Anda menetap di daerah kami, sedangkan pertikaian masih berlangsung antara saya dan Abdullah bin Zubair. Anda adalah seorang yang terpandang di kalangan kaum muslimin. Oleh sebab itu, saya memandang perlunya Anda berbia’at kepada saya, apabila Anda ingin tinggal dalam wilayah kekuasaan saya. Bila Anda berbai’at, kebetulan ada seratus kapal yang baru tiba dari Kulzam, semuanya saya serahkan kepada Anda. Lalu ada tambahan lagi sebesar seratus juta dirham dan semua kebutuhan Anda beserta sanak keluarga akan selalu kami cukupi. Tetapi apabila Anda menolak, sebaiknya Anda segera keluar dari wilayah kekuasaan”.

Baca Juga:  Perang Ghathafan dan Taubatnya Musuh Rasulullah

Setelah menerima dan membaca surat tersebut, Muhammad Al Hanafiyyah menjawab; “Dari Muhammad al-Hanafiyyah kepada Abdul Malik bin Marwan”.

Keselamatan semoga tercurah atas Anda setelah bertahmid kepada Allah yang tiada Ilah yang haq selain Dia. Saya mengira Anda takut dan khawatir terhadap saya, sedangkan Anda sudah tahu sikap dan pendirian saya dalam persoalan ini.

Demi Allah, seandainya seluruh umat ini berkumpul kecuali satu kelompok dari satu desa saja, saya tetap menerimanya dan tidak memeranginya. Saya telah datang ke Mekah kemudian Abdullah bin Zubair meminta agar saya membai’at kepadanya.

Baca Juga:  Kisah Penyembelihan Nabi Ismail, Sejarah Pensyariatan Kurban

Ketika saya menolak, dia menganiaya saya. Kemudian Anda menulis surat kepada saya dan menawarkan untuk tinggal di daerah Syam. Saya memilih tinggal di suatu kota di tepian wilayah Anda karena biaya hidup lebih murah, lagi pula jauh dari wilayah kekuasaan Anda.