Kisah Muhammad Al Hanafiyyah Bin Ali Bin Abi Thalib (4)

Ilustrasi berjalan di gurun. (Foto: Net)

Maka tak ada lagi pilihan lain bagi Muhammad Al Hanafiyyah kecuali menulis surat kepada Abdul Malik;

“Kepada hamba Allah Abdul Malik bin Marwan, Amirul Mukminin, dari Muhammad bin Ali. Setelah mengikuti perkembangan, saya melihat bahwa kekuasaan sudah kembali ke tangan Anda. Orang-orang sudah berbai’at kepada Anda melalui wali Anda di Hijaz. Saya kirimkan pernyataan tertulis ini kepada Anda. Wassalam”.

Sesampainya surat itu, Abdul Malik membacakan di hadapan sahabat-sahabatnya, mereka berkata; “Seandainya beliau ingin mengganggu dan menimbulkan keonaran di antara muslimin, dia mampu melakukannya dan engkau tidak bisa berbuat apa-apa. Oleh sebab itu, tulislah jawaban untuknya agar dia berjanji dan bersumpah untuk menjaga ketenteraman atas nama AllahĀ Subhanahu wa Ta’alaĀ dan Rasul-Nya agar tidak timbul kekacauan karena kekuatan dan banyaknya pengikut beliau”.

Baca Juga:  Kisah Abu Nawas, Benar Ataukah Fiktif Belaka?

Maka, Abdul Malik bin Marwan pun menulis surat jawaban untuk Ibnu Al Hanafiyyah dan memerintahkan kepada walinya, Hajjaj bin Yusuf, agar senantiasa menghormati, menjaga kedudukannya, dan berbuat baik kepada Muhammad.

Namun sayang, usia Muhammad Al Hanafiyyah tidak begitu panjang. Karena AllahĀ Subhanahu wa Ta’alaĀ telah memilihnya untuk kembali ke sisi-Nya dengan ridha dan penuh keridhaan.(*)